Sebuah Usaha Menulis Cerita Bersepeda
Musim sepedaan tiba. Saya ikut meramaikan musim ini dengan menjadi salah satu pesepeda pemula. Saya bosan selama masa pandemi harus diam di rumah saja. Olahraga yang saya lakukan sebelumnya yaitu badminton, pada 2-3 bulan lalu belum mungkin dilakukan. Dan bersepada, saat itu adalah salah satu cara yang paling mungkin ditempuh untuk bisa lepas dari kebosanan diam di rumah saja, sekaligus untuk menggerakkan badan yang sudah kaku karena berbulan-bulan tak berolahraga.
Dalam mengikuti musim sepedaan ini ternyata saya tak sendiri. Di kantor, ada beberapa kawan yang juga turut bersepeda. Dan bersama rekan sekantor ini, saya pernah ngetes kekuatan dengkul dengan bersepeda dari rumah di Ketintang menuju Candi Belahan di Pasuruan.
Bersepeda ke Candi Belahan ini kami lakukan dua bulan lalu. Tepatnya pada hari Minggu. Lima orang ikut dalam perjalanan ini. Selain saya, ada juga Mas Nico, Mas Adit, Mas Romadhon, dan Mas Arda.
Garis start, kami sepakati di Taman Pelangi. Pukul 6 pagi —kecuali Mas Adit yang menunggu di Sidoarjo— kami sudah berkumpul. Perjalanan pun dimulai. Gowes dari Surabaya ke Sidoarjo relatif lancar. Tenaga dan semangat masih penuh. Mas Nico yang baru pertama bersepeda lagi setelah lama tak bersepeda, masih terlihat baik-baik saja.
Setelah kurang lebih 15 menit mengayuh pedal dengan kecepatan sedang, kami sampai di wilayah Gedangan. Mas Adit ternyata sudah ada di sana. Maka lengkaplah sudah kami berlima. Sidoarjo pagi itu mendung. Meskipun sudah lewat pukul setengah 7, matahari belum tampak. Rasanya enak sekali bersepeda di kondisi cuaca yang tidak panas.
Satu jam bersepeda, kami sampai di wisata Lumpur Lapindo. Di sana kami memutuskan beristirahat sejenak. Di sini Mas Nico sudah mulai terlihat agak lelah. Memasuki jalanan Desa Jeruk Purut, kelelahan Mas Nico semakin menjadi-jadi. Mungkin badan Mas Nico kaget. Sudah lama tidak bersepeda, tapi hari itu langsung bersepeda ke Candi Belahan yang berjarak 40 km dari titik kumpul kami di Surabaya.
Setelah beristirahat beberapa saat, Mas Nico kembali mengayuh pedalnya. Namun ketika jalanan mulai menanjak, ia benar-benar sudah berada di ambang batas kesiapan fisiknya. Ia bilang ingin sampai ke Candi dengan mendorong sepedanya saja. Agar bisa mengimbangi ritmenya, kami memutuskan untuk mendorong sepeda kami juga. Tapi beberapa ratus meter, Mas Nico minta ditinggal saja. Ia istirahat di masjid dan meminta kami melanjutkan perjalan tanpa dirinya.
Kami berempat pun bergegas melanjutkan perjalanan ke atas. Beberapa kilometer kami masih kuat mengayuh sepeda melewati tanjakan. Tapi semakin ke atas, tanjakannya semakin “istimewa”. Akibatnya beberapa kali kami harus mendorong sepeda. Sempat juga mampir di warung, isi tenaga dengan es kelapa muda. Saat istirahat itu, kepada pemilik warung, Mas Adit sempat bertanya:
“Candi belahan masih jauh, Pak?”
“Sudah dekat mas. 100 meter lagi. Bisa itu sepeda sampean sampai atas. Jalannya tidak terlalu nanjak, kok.”
Apa yang dikatakan pemilik warung itu, bikin kami semangat kembali. Sebelum akhirnya menyimpan kesal dalam hati karena merasa dibohongi. Jarak warung itu ke candi bukan 100 meter tapi 1 Km lebih. Dan jalannya yang katanya tidak nanjak itu, saya tidak tahu bagaimana ia bisa mengatakan itu bukan tanjakan.
Dengan segala daya dan upaya, akhirnya kami sampai juga di Candi Belahan. Saya menduga candi ini adalah mata air. Ada air yang memancar dari patung. Dan di bawah patung itu, ada kolam yang berisi ikan-ikan.
Di sana kami sempat istirahat lagi di warung. Jajan mie instan dan minum es untuk mengembalikan tenaga. Tak lama kemudian kami bergegas turun untuk mengejar Mas Nico yang sudah terlebih dahulu meninggalkan masjid tempatnya beristirahat.
Perjalanan turun sama sekali berbeda dengan saat naik, Kami tak perlu mendorong sepeda. Bahkan untuk mengayuh pun tak perlu. Kami hanya perlu berhati-hari memainkan rem.
Sekira pukul 1 siang, kami sudah berada di rumah Mas Adit. Di sana, kami membersihkan diri, sholat, makan siang dan meluruskan kaki sejenak. Setelah ashar kami melanjutkan perjalan pulang. Di perjalanan pulang Mas Nico dibantu Mas Adit. Ia tak perlu mengayuh sepedanya karena didorong dengan motor oleh Mas Adit.
Menjelang magrib. Saya sampai di rumah. Saya cek strava saya. Total jarak yang kami tempuh hari itu ternyata mencapai 84 km! Senang sekali rasanya. Tapi badan tak bisa dibohongi. Capeknya luar biasa. Sepedaan Surabaya-Pasuruan saja, begini luar biasa capeknya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya bersepeda dari Surabaya ke Kuningan Nusaherang. Bisa-bisa kami pingsan di tengah jalan. Kalau ke Kuningan Nusaherang saya akan memilih naik bus saja. Atau kereta. Atau apapun yang penting bukan bersepeda.
Biar di sana, saya bisa menikmati keindahan kotanya. Menikmati tempat wisatanya. Juga menikmati kelezatan kulinernya. Salah satunya adalah kelezatan Aqiqah Nurul Hayat. Oh iya untuk masyarakat Kuningan Nusaherang kalau mau aqiqah menggunakan Aqiqah Nurul Hayat bisa ke Aqiqah Nurul Hayat Cirebon. Aqiqah Murah Cirebon ini adalah aqiqah terbaik. Kambing aqiqah pilihan, disajikan dengan higienis dan pelayanan yang prima, membuat Aqiqah Nurul Hayat Cirebon ini cocok untuk Anda yang ingin mengadakan acara aqiqah. Cocok sekali. Sangat cocok!

Comments
Post a Comment